google-site-verification=bz7-mESomjIDIqdIIkzPwd8yqdX8UWO4O1wY2S9zFe0

Potret Pemimpin Masa Depan dalam Novel Pasar karya Kuntowijoyo


1
1 point
Potret Pemimpin Masa Depan dalam Novel Pasar karya Kuntowijoyo
Novel Pasar karya Kuntowijoyo (Istimewa)

“Inilah, Nak. Kita menang, tanpa mengalahkan. Kita sudah bertempur tanpa bala tentara. Mengapa, musuh kita adalah kita sendiri. Di sini. nafsu kita. Dan kita sudah menang! “Kitalah orang Jawa yang terakhir, Nak. Yang mementingkan budi, lebih daripada ini. Yang mementingkan martabat lebih dari pangkat.” (Mantri Pasar)

Bicara mengenai pemimpin masa depan berarti membahas tentang kriteria tokoh yang mampu mencapai ukuran keberhasilan sebuah tujuan hidup. Pemimpin-pemimpin masa depan ideal yaitu pemimpin yang percaya diri karena kemampuannya melewati berbagai pengalaman pahitnya kehidupan. Kesuksesan pemimpin masa depan itu bersifat diskrit, sehingga rakyat tidak butuh wibawa dari seorang pemimpinnya melainkan ide-ide yang dapat membawa suatu perubahan yang tentunya lebih baik akan jauh lebih penting dari wibawa tersebut.

Novel Pasar yang ditulis Kuntowijoyo merupakan salah satu novel yang mencoba mengangkat realitas kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat Jawa. Novel ini mampu menggambarkan kondisi sosial masyarakatnya. Latar cerita adalah masyarakat Jawa, yang diwakili oleh sebuah kecamatan, yaitu Kecamatan Gemolong. Namun, tidak dapat dipungkiri, novel ini sarat makna, khususnya tentang nilai-nilai Jawa yang selama ini dianggap sangat luhur. Nilai-nilai Jawa ini menyangkut masalah sikap, jiwa, dan kebudayaannya.

Cerita tersebut diawali dengan mengetengahkan tokoh Pak Mantri yang menjadi tokoh utama dalam novel ini. Pak Mantri adalah seorang lelaki tua yang menjabat sebagai Kepala Pasar atau Mantri Pasar di Pasar Kecamatan Gemolong. Beliau hidup sendiri di usianya yang tua itu dan satu-satunya hiburan bagi Pak Mantri adalah burung-burung peliharaannya. Dalam menjalankan tugasnya, Tokoh Pak Mantri dibantu oleh Paijo, bawahannya yang bertugas menarik karcis (sebagai pajak) dari setiap pedagang yang berjualan di pasar itu, sekaligus merangkap sebagai tukang sapu pasar, dan  juga mengurus burung-burung peliharaan Pak Mantri.

Adapun nilai dan sikap kepemimpinan tokoh utama yang secara tidak langsung dapat menjadikan patokan untuk pemimpin masa depan.

 Kejujuran. Nilai kejujuran yang terdapat dalam novel Pasar ini terlihat dari pandangan dan perilaku tokoh utama dan anak buahnya. Dalam kehidupan Pak Mantri nilai kejujuran sangat dipegang teguh. Hal ini terlihat dalam kutipan berikut ini. “Patut juga Pak Mantri dikagumi, ya Paijo tersenyum-senyum. Ada harapan untuk menang juga rupanya. Siapa jujur, mujur. Itulah patokannya (H.121). Dalam hal ini Pak Mantri menunjukkan suatu keyakinan bahwa kejujuran akan mendapatkan sebuah kebahagiaan dan keberuntungan.

Tanggung Jawab. Sikap tanggung jawab tokoh utama tidak hanya diterapkan pada pedoman hidup dan pekerjaan saja, tetapi juga tanggung jawab terhadap sesama makhluk Tuhan. Hal ini terbukti dalam kutipan berikut. “Memelihara burung itu adalah amanat. Itu tanggung jawab kita terhadap Yang Mencipta burung. Meskipun tidak ada undang-undangnya. Siapa yang menyiakan makhluk lain, ia akan disiasiakan pula, suatu kali. Dan tahukah kau, bahwa hidup itu lebih dari hanya makan untuk diri sendiri?” (H. 11).

Kesabaran. Dalam novel Pasar kesabaran itu digambarkan melalui sikap dan sifat tokoh utama. Salah satunya ketika tokoh mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan ketika berkunjung ke kantor kecamatan. Namun, tokoh Pak Mantri menunjukan reaksi yang lain. Tokoh Pak Mantri tersenyum dan mencoba menerangkan. Baginya yang terpenting bukanlah kemarahan tapi penerangan. Sikap yang dilakukan oleh tokoh utama tersebut, merupakan bentuk kesabaran.

Kesetiaan. Nilai kesetiaan yang terdapat dalam novel Pasar karya Kuntowijoyo ini terlihat pada sikap tokoh utama dan anak buahnya. Kesetiaan tokoh tersebut terlihat dalam hal perkerjaan, sedangkan kesetiaan anak buahnya terlihat pada rasa hormat terhadap atasannya. Hal ini terlihat pada kutipan berikut ini.

 “Soal tuduhan dari atasan? Biarlah, yang putih akan nampak bersih, yang belang akan nampak beluntang. Tidak usah disusahkan. Kalau ia mau kaya, bukan begitu caranya. Kalau dia mau maling, tidak sekarang waktunya. Kalau dia mau mencatut, bukan di pasar tempatnya. Semua orang tahu! Pekerjaan itu sudah dipegangnya sejak muda. Turun naik nasibnya. Ya, lebih banyak turunnya daripada naiknya. Tetapi toh setia juga. Apakah itu bukan suatu bukti dari niat baiknya!” (H.324)

Ketegasan. Secara tidak langsung memperlihatkan dirinya bahwa ia seseorang yang mampu memimpin sebuah pasar. Hal ini terbukti pada saat tokoh utama memberikan petuah-petuah kepada bawahannya yang juga dianggap sebagai keluarganya dan terdapat pada kutipan berikut.

”Sebentar lagi engkau akan jadi orang lain, Nak. Setiap orang harus sadar akan kedudukannya. Tukang gerobag boleh tertawa keras. Tetapi seorang kepala pasar tidak. Seorang guru tidak. Lagi pula yang penting, ingatlah bahwa kau orang Jawa. Ketika engkau gembira, ingatlah pada suatu kali kau akan mendapat kesusahan. Apalagi menertawakan nasib buruk orang lain, Nak. Jangan, sekali-kali jangan. Orang yang berpangkat harus berbuat baik, suka menolong. Kalau ada yang kesusahan, harus bisa membantu. Jangan malah menertawakan. Kalau tidak bisa membantu, menyesallah. Dan berjanjilah suatu kali kau akan membantu. Sebaliknya ikutlah berduka cita atas kemalangan orang lain. Engkau boleh tertawa apabila saudaramu beroleh kesukaan. Bersusahlah bersama orang yang susah, bergembiralah bersama orang yang bergembira. Renungkanlah, Nak.”

Selain Pak mantri, tokoh utama yang menjabat sebagai pemimpin pasar, ada pula tokoh lain yang ingin sekali memperebutkan kekuasaan daerah pasar tersebut, ia adalah Kasan Ngali. Sikap kepemimpinan  tokoh Kasan Ngali ini sangat berbeda jauh dengan Pak Mantri. Karena pada saat Pak mantri mengalami suatu permasalahan besar, ia memanfaatkan situasi itu dengan mendirikan pasar baru dan Bank Kredit di pekarangannya. Pasar Kasan Ngali pun tidak ditarik karcis. Sehingga membuat para pedagang pasar pindah ke pasar Kasan Ngali. Dalam novel Pasar ini, tokoh Kasan Ngali memperlihatkan dirinya untuk berusaha menguasai wilayah pasar dan berbagai macam hal dilakukannya untuk dapat memimpin pasar dan berharap ia menjadi orang yang disegani oleh warga.

Amanah yang dapat diambil dari kedua tokoh pemimpin cerita novel Pasar ini adalah untuk mendapatkan sesuatu, seseorang harus berusaha dengan kerja keras yang baik dan jangan menjatuhkan orang lain untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Karena jika seseorang mencapai keberhasilan diatas penderitaan orang lain, maka suatu saat akan mengalami kegagalan juga apabila seseorang tersebut tidak secepatnya menyadarkan diri bahwa yang dilakukan itu tidak baik. Kejujuran, tanggung jawab, ketegasan, kesetiaan dan kesabaran merupakan kunci mewujudkan pemimpin masa depan yang lebih baik.

Wiwin Kurnia Widyanti 
Mahasiswa Progam Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
Universitas Muhammadiyah Malang

 

    


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
1
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win
#MalangTODAY │Informasi dan Kerja Sama, Hub :| Info@MalangTODAY.net | WA : 08123484750 | 0341-569-669

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF